POLITIK

Pernah Dimuat Di Media Lain

Cara Membaca Prilaku Politik Pilkada Sumenep
Oleh : Ajimuddin Elkayani

Sabtu, 12 September 2020 – 23:27 WIB

Bisa saja mengenal orang lain itu dari jarak jauh atau bahkan kepada orang yang beda masa beda generasi. Melalui rekam jejak atau buah fikiran yang tertulis dalam bentuk catatan harian atau berupa buku-buku. Karena pandangan dan orientasi hidup orang dimaksud, mungkin tertuang di sana.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa hal demikian hanyalah satu dan beberapa lintasan saja dari totalitas kehidupan seseorang, dari sejarah hidup seseorang. Sekali dua kali berpapasan belum tentu bisa dijadikan sinopsis tentang seseorang secara utuh seperti adanya. Kompleksitas manusia dan kehidupannya mengalahkan dalamnya lautan dan tingginya gunung.

Pembacaan jarak jauh, biasanya yang tampil sebagai gambaran tentang manusia, tidak lebih dari rentetan asumsi dari perspektif kita sendiri atas seseorang tersebut. Niat, emosi dan spiritualitas yang menggerakkan diri orang adalah sesuatu yang tidak mungkin kita raba atau kita lihat secara verbal.

Siang ini kita bertemu teman lama yang sedang ada di sebuah pasar tradisional dan terlihat memanggul rongsokan, malamnya kita menyaksikan orang yang sama sedang jadi imam masjid. Dini hari kita melihat dia cangkruan di warung kopi dekat areal prostitusi. Lalu apa yang akan kita simpulkan?

Ada tiga episode yang dimainkan oleh aktor yang sama, yaitu kuli panggul di pasar, imam masjid dan kedekatan dengan daerah mesum atau mungkin saja dia jadi germo. Apa yang sebenarnya terjadi dan berlangsung di hadapan kita?

Akal normatif akan mengetengahkan narasi subyektif dari apa yang tampak secara material dalam durasi waktu yang singkat tersebut. Sehingga akan melahirkan dugaan, klaim bahkan judgement yang kemudian oleh pendengar atau pembaca dinilai sebagai kebenaran. Dan kebenaran ini tidak lagi relatif ketika diulang-ulang, dipaksakan lalu menjadi sesuatu yang dimutlakkan. Padahal apa yang terlihat oleh mata, adalah sebuah teks yang hanya menampilkan satu perspektif saja dari cara seseorang dalam memainkan eksistensinya. Dan bagi Schleiermacher, teks itu bersifat sakral karena di dalamnya memuat proses mental seorang pengarang atau pencipta teks.

Berbeda dengan akal kritis yang tidak puas dengan fakta yang tampak dan terlihat secara empirik. Ia selalu percaya bahwa ada fakta di balik fakta. Fakta yang ada dipandang sebagai misteri yang butuh keseksamaan. Bahkan perlu menelusuri fakta lain yang mendorong dan mengkonstruksi hal-hal yang terlihat oleh mata kita. Sebab bagaimanapun, manusia adalah makhluk transendental. Yang di dalamnya ada tata psikologi, pengetahuan dan kepercayaan yang diformat sebagai dunia yang membentuk cara hidup dan kehidupannya.

Dalam rangka menemukan hakikat fakta itulah nalar kritis itu membutuhkan tindakan komunikatif ala Jurgen Habermas. Sebuah cara pandang yang memposisikan sejajar antara manusia sebagai subyek versus orang lain yang juga sebagai subyek. Ketika dua subyek bertemu maka masing-masing hendaknya saling menghargai karena keduanya sama-sama memiliki metode, pengetahuan dan sejarah yang berbeda. Tidak elok jika saling menegasikan atau menghinakan satu dengan lainnya. Bagi orang yang NU, itulah yang disebut akulturasi. Sebuah perpaduan dari sekian budaya yang satu dengan lainnya tidak saling menghilangkan.

Mengelola perbedaan dengan sekian subyek inilah tugas politik dan demokrasi. Namun pada praktiknya, kita menemukan kesulitan tingkat dewa. Karena ruang dan dinamika yang berkembang – terutama politik kekuasaan- yang sangat beragam, yang justeru dipenuhi dengan pencitraan, intrik, dan “afleding smart mover” (pengalihan penghatian publik) yang mendorong banyak kalangan untuk terjebak dan tersesat. Di dunia politik praktis, apa yang dikatakan dengan apa yang dikerjakan bisa saja sangat bertolak belakang. Ada patahan nilai, kultural dan ideologi. Misalnya, ada calon yang tidak bisa baca Al-Qur-an, maka dia akan berusaha sekeras mungkin untuk pura-pura bisa baca dan dicitrakan sebagai sosok yang fasih bahkan seolah lebih fasih daripada santri yang mondok 11 tahun.

Maka dalam keadaan yang demikian itulah, pola membaca ala filsafat kritis menemukan urgensinya. Bahkan dengan metode ini, kepada diri sendiripun kita bisa bertanya, sudah pahamkah kita atas hidden agenda, tujuan di balik tujuan para kandidat dan ideologi masing-masing kandidat.

Semoga Sumenep mampu menemukan pemimpin yang terbaik untuk masa depannya.

Ganding, 12-09-2020

Sumber : https://jejak.co/cara-membaca-prilaku-politik-pilkada-sumenep/

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *